Welcome Guys

Silahkan berlangganan artikel via email, artikel baru secara otomatis akan terkirim ke email anda. Terima kasih

Enter your email address:

Tampilkan postingan dengan label Islam Dan Peradaban. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Dan Peradaban. Tampilkan semua postingan

Muslimah Kunci Kemajuan Negara-Negara Islam

Written By Dailynomous on Minggu, 25 Desember 2011 | Minggu, Desember 25, 2011

Islam menghargai dan menghormati posisi perempuan. Faktanya, di sejumlah negara Islam, posisi perempuan masih terpinggirkan. Dalam konferensi Perubahan Masyarakat Islam dan Peranan Perempuan, yang diselenggarakan Organisasi Konferensi Islam di Istanbul, PM Turki, Reccep Tayyip Erdogan, mengatakan pentingnya negara-negara Islam untuk menghargai dan menghormati hak-hal perempuan.

Ia juga mengharapkan negara-negara Islam dapat menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi perempuan dari tindak kekerasan. Kebijakan itu, kata Erdogan, dimulai dengan komitmen menjalankan kebijakan dengan konsisten dalam mempromosikan kesetaraan gender dan merancang bentuk representasi seimbang antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang.

"Saya kehilangan seorang ibu bulan lalu, dari situ saya kian teringat dengan perkataan Nabi Muhammad yang menyatakan surga berada di bawa telapak kaki ibu. Pernyataan Nabi menandakan Islam menghormati posisi perempuan," kata Erdogan seperti dikutip todayszaman.com, Sabtu (24/12).

Sekjen OKI, Ekmeleddin Ihsanoglu, mengatakan peran perempuan Muslim telah membawa perubahan positif dalam revolusi Arab. "Apa yang telah dicapai di negara-negara itu mungkin karena perempuan berdiri berdampingan dengan pasangannya," jelasnya.

Ihsanoglu juga menekankan, hanya melalui peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang politik, sosial dan lainnya masyarakat akan menemukan jalan menuju kemajuan dan perkembangan yang berarti. "Meskipun fakta di lapangan menunjukkan perkembangan positif dalam peranan perempuan dalam dekade terakhir, masih ada pekerjaaan rumah yang belum selesai," kata dia.


sumber : Republika
Minggu, Desember 25, 2011 | 2 komentar | Read More

Produsen India Luncurkan Islamic Smartphone dengan Kompas ke Makkah

Written By Dailynomous on Kamis, 08 Desember 2011 | Kamis, Desember 08, 2011

Sebuah smartphone Islam telah diluncurkan dengan sebuah kompas yang menunjuk secara permanen ke arah Makkah dan Al-Quran yang sudah di download.

Penemu dari Enmac di India mengatakan bahwa mereka berfokus pada teknologi religius saat merancang telepon baru tersebut.

Dan pasar yang naik-turun seperti India memiliki pengguna telepon seluler dengan pertumbuhan tercepat di dunia dengan lebih dari 850 juta pelanggan termasuk petani dan tukang becak.

Anuj Kanish, yang telah meluncurkan Enmac di India, mengatakan kepada The Telegraph: "India memiliki sekitar 180 juta Muslim dan penetrasi ponsel di komunitas itu masih kurang.

"Tapi ketika sebuah produk atau layanan menarik tersedia, ia memiliki potensi untuk meningkatkan jumlah pengguna. Sejauh ini, kami telah memiliki respon yang luar biasa untuk produk tersebut.'

Dia menambahkan: "Agama memiliki tempat yang sangat penting dalam masyarakat India, demikian juga memiliki ponsel. Tujuan kami adalah untuk membawa sebuah perangkat yang melayani kedua bagian, produk tersebut adalah kombinasi dari keduanya, teknologi dan agama, yang pertama dari sejenisnya di India. '

Enmac menerjemahkan Al-Quran dari bahasa Arab ke 29 bahasa, dan termasuk ucapan Hadits Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam, dan panduan untuk Muslim India tentang cara melakukan ritual haji di Makkah dan Madinah.

Kanish mengatakan perusahaannya telah memfokuskan pada 'teknologi agama' untuk membantu pelanggan dengan kehidupan yang sibuk untuk 'tetap terhubung dengan Tuhan. "


Sumber : [Voa-Islam]
Kamis, Desember 08, 2011 | 1 komentar | Read More

Julius Germanus, Orientalis Pembela Islam Sejati

Written By Dailynomous on Jumat, 15 Juli 2011 | Jumat, Juli 15, 2011

Bila Allah telah berkehendak dan memberikan hidayah kepada seseorang, tak ada seorang pun yang mampu menolaknya. Dan bila Allah tidak menghendakinya, seberapa pun baiknya akhlak orang itu, tetap saja ia tidak akan beriman.

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS Al-Qashash [28]: 56).

Hal itu pula yang dialami oleh Julius Germanus, guru besar bahasa Arab asal Hungaria. Kendati intens mempelajari agama yang dianutnya terdahulu, tetapi atas hidayah Allah, ia pun akhirnya memeluk agama Islam dan menjadi pembelanya yang sejati. Ia pun kemudian mengganti nama baptisnya dari Julius Germanus menjadi Abdul Karim Germanus.

Awalnya, ia adalah seorang orientalis terkemuka asal Hungaria dan juga seorang akademisi yang telah mendunia. Perjalanan spiritual Germanus dalam mencari Islam menyita hampir separuh perjalanan hidupnya. Dia menggambarkan kisah keislamannya itu sebagai 'bangunnya sebuah kehidupan baru'. Dengan kata lain, ia bagaikan seekor singa yang telah lama tertidur dan kemudian bangkit.

Dalam buku "Islam, Our Choice", diungkapkan awal perkenalan Germanus dengan Islam. Ia mulai mengenal Islam pada saat masih menjadi mahasiswa di Turki. Pria kelahiran Budapest, Hungaria, pada 1884 ini dibesarkan dalam nuansa agama Kristen yang sangat taat. Kedua orang tuanya memberikan nama Julius Germanus.

Setelah lulus dari Universitas Budapest, dia memutuskan untuk mengambil spesialisasi bahasa Turki. Pada 1903, dia pergi ke Istanbul untuk melanjutkan sekolah. Dia diterima di Universitas Istanbul dan mengambil program studi bahasa Turki. Saat di Istanbul, Germanus juga mempelajari Alquran terjemahan bahasa Turki. Itulah awal perkenalannya dengan Islam. Dengan kemampuannya yang tinggi dalam membaca terjemahan Alquran berbahasa Turki, membuatnya mudah memahami Islam langsung dari sumber aslinya. Tak hanya itu, dia juga membandingkan terjemahan Alquran itu dalam beberapa bahasa lainnya.

Setelah mempelajari Alquran terjemahan ini, mulailah timbul rasa ketertarikan terhadap Islam. Termotivasi dengan kebenaran agama Islam, dia memutuskan untuk melakukan penelitian guna menelusuri apa saja yang telah ditulis oleh orang-orang Kristen tentang Islam dan membandingkannya dengan sumber aslinya, yaitu Alquran dan Sunah Nabi Muhammad SAW.

Saat liburan musim panas, Germanus berkesempatan mengunjungi Bosnia. Di sana ia menyaksikan secara langsung kehidupan kaum Muslimin yang sesungguhnya. Sikap ramah dan bersahabat yang ditunjukkan warga Muslim Bosnia kepadanya, telah membukakan pandangan baru dalam diri Julius Germanus mengenai Islam dan para pemeluknya.

Selepas menamatkan pendidikan di Universitas Istanbul, Germanus kembali ke Hungaria dan mengabdikan diri di almamaternya sebagai dosen. Ia kerap berjumpa dengan beberapa mantan guru besarnya (profesor-Red) di Universitas Budapest dulu. Para profesornya ini sering menyampaikan pemikiran-pemikiran yang menurut Germanus menyimpang tentang Islam. Maka, dengan berbekal pengetahuannya tentang Islam yang seadanya, Julius Germanus berusaha untuk meluruskan pemikiran-pemikiran tersebut.

Karenanya, ia sering terlibat diskusi yang sangat intens dalam menjawab berbagai pertanyaan kelompok non-Muslim mengenai Islam. Minatnya terhadap Islam makin bertambah setiap harinya. Dan, di sela-sela kesibukannya mengajar, ia menyempatkan diri mempelajari bahasa Arab. Dalam bidang yang satu ini, Germanus memang memiliki bakat yang besar. Buktinya, dalam jangka waktu singkat dia sudah mahir berbahasa Arab. Belum puas dengan yang diperolehnya, Germanus juga belajar bahasa Persia.

Pada 1912, Germanus diangkat sebagai profesor bahasa Arab Persia dan Turki di Hungarian Royal Academy di Budapest. Dia juga mengasuh mata kuliah Sejarah Islam. Selanjutnya, dia dipercaya untuk memimpin Department of Oriental Studies di Universitas Budapest.

Keinginan Germanus yang kuat untuk mendalami Islam dan menyelami sifat-sifat khas Muslim telah mempertemukannya dengan salah satu pujangga Muslim tersohor asal Pakistan, Muhammad Iqbal. Keduanya sering terlibat pembicaraan hingga berjam-jam lamanya. Topik-topik yang mereka bicarakan beragam, mulai dari mengenai Islam hingga berdiksusi tentang aktivitas para orientalis dan misionaris Kristen.

Mengenai misionaris Kristen, Germanus dan Iqbal punya pandangan yang berbeda. Menurut Germanus, propaganda yang disebarkan oleh para misionaris Kristen di Eropa sebagai sebuah masalah pelik yang mengkhawatirkan. Sementara Iqbal justru melihat masalah sesungguhnya ada pada orang Islam sendiri. Iqbal menyebut, persatuan dan kesatuan Muslim yang lemah telah membuat umat Islam mudah diombang-ambing.

Bersyahadat di India
Atas undangan sastrawan dan penerima Nobel terkemuka asal India, Rabindranath Tagore, pada 1928 Germanus pergi ke India untuk mengajar sekaligus memimpin program Islamic Studies di Visva-Bharati University. Ia bermukim di India selama beberapa tahun. Di sana pula dia akhirnya menemukan cahaya Islam yang sesungguhnya.

Tepat pada hari Jumat, bertempat di Masjid Agung Delhi, Germanus menegaskan pilihannya untuk menjadi seorang Muslim. Di hadapan jamaah shalat Jumat yang memenuhi Masjid Agung Delhi, Germanus berikrar dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia lalu mengganti namanya menjadi Abdul Karim.

Germanus menikah dengan seorang perempuan Eropa yang dulunya beragama Kristen. Setelah beberapa lama, sang istri akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam dengan disaksikan oleh Syekh Ahmed Abdul Ghafur Attar, seorang penulis dan akademisi Islam terkenal.

Keputusannya untuk masuk Islam, tidak membuat ia mendapat perlakukan diskriminasi dari pihak universitas tempat ia bekerja. Bahkan, dia mendapat kelonggaran, misalnya untuk menunaikan shalat Jumat ke masjid. "Islam memiliki kelebihan yang mampu mengangkat derajat manusia dari sikap kebinatangan menuju peradaban yang mulia. Saya berharap, Islam bisa mencapai mukjizat tertinggi itu di saat kegelapan sedang menyelimuti kita," ujarnya.

Pada 1935, ia memperoleh kesempatan menunaikan rukun Islam kelima dan menjadi satu dari sedikit Muslim Eropa yang berangkat ke Makkah pada masa itu. Kemudian pada 1939, dia menunaikan ibadah haji untuk kali kedua. Kisah perjalanan rohaninya ke Makkah telah dituliskan dalam sebuah buku berbahasa Hungaria yang cukup terkenal berjudul, Allahu Akbar! Buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Sumber : Republika
Jumat, Juli 15, 2011 | 3 komentar | Read More

Al-Qur'an dan Sains: Penghamparan Bumi

Written By Dailynomous on Kamis, 14 Juli 2011 | Kamis, Juli 14, 2011

Dalam bahasa arab, kata penghamparan disebut dengan ‘tamhid’. Yang dimaksud dengannya adalah mempersiapkan sesuatu agar layak untuk digunakan dan dimanfaatkan, dengan diawali serangkaian persiapan-persiapan, mulai dari yang primer sampai yang skunder. Dan cara pengungkapan sesuatu dengan menggunakan kata ‘al-mihad’ berarti validitasnya yang sempurna sehingga siap untuk digunakan.

Kondisi bumi pun, yang pada akhirnya berbentuk hamparan, sebelumnya diawali dengan serangkaian peristiwa geologi dan fisiokimia tertentu, di mana bumi pada pertama kalinya dingin. Kemudian setelah kadar panasnya stabil, mulai membentuk hingga tercipta bentuk akhirnya yang lonjong seperti telur.

Setelah itu, terjadi proses rumit kimiawi hingga bentuk luar bumi layak untuk ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, di mana permukaan bumi menyediakan semua unsur yang dibutuhkan tumbuh-tumbuhan itu untuk hidup dan berkembang, berbuah dan berbunga.

Hakikat ilmiah di atas, secara ringkas diceritakan oleh Al-Qur'an dalam kalimat yang singkat namun padat dalam surah An-Naba ayat 6, Allah SWT berfirman: "Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?"

Pada ungkapan ‘menjadikan’ yang terdapat pada ayat di atas, kita mendapatkan bahwa Allah SWT menggunakan kata ‘ja’ala’ yang mengisyaratkan bahwa bumi mengalami serangkaian proses hingga ia terhampar.

Sedangkan di ayat lain, kita mendapatkan penggunaan kata ‘khalaqa’ yang berarti penciptaan sesuatu sesuai bentuknya secara langsung. Tidakkah hal ini menunjukkan kemukjizatan Al-Qur'an dan kebenarannya?


DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah
Kamis, Juli 14, 2011 | 0 komentar | Read More