Welcome Guys

Silahkan berlangganan artikel via email, artikel baru secara otomatis akan terkirim ke email anda. Terima kasih

Enter your email address:

Tampilkan postingan dengan label Kata Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kata Tokoh. Tampilkan semua postingan

Prof Dr KH Achmad Satori : Umat Islam Masih Anggap Puasa Sebatas Formalitas

Written By Dailynomous on Jumat, 22 Juli 2011 | Jumat, Juli 22, 2011

Tak sedikit Muslim yang menganggap puasa sebatas formalitas. Maksudnya, hanya meninggalkan hal-hal yang membatalkan saja, tapi mengesampingkan makna puasa yang mengarah pada usaha menuju Muslim yang kaffah.

Demikian diungkapkan ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI),  “Lihat saja, ketika berbuka, kita lupa lalu makan kenyang, ketika malam hari justru dihabiskan untuk nonton bola atau acara televise ketimbang berdzikir,”

Menurut Satori, Rasullah SAW sudah memprediksikan itu dengan mengatakan banyak orang berpuasa hanya untuk mendapatkan lapar dan haus. Tapi tidak mendapatkan manfaat berpuasa secara menyeluruh. “Di luar menahan lapar dan haus, kita tidak berpuasa,” kata dia.

Satori mengatakan guna mengembalikan makna puasa sebagaimestinya, perlu peranan semua pihak dalam hal ini keluarga, masyarakat dan pemerintah. Menurut dia, peranan da’i dengan beragam cara berdakwah sulit untuk mengubah kondisi itu tanpa peranan ketiga pihak tadi. “Setiap Muslim adalah da’i. Jadi, hal yang keliru hanya mengandalkan para da’i untuk menciptakan suanana ramadhan yang diridhai Allah,” kata dia.

Faktor keluarga misalnya, kata Satori, memiliki pengaruh besar dalam pembentukan mental dasar setiap Muslim. Dari keluarga, pada dasarnya setiap Muslim telah dibekali iman dan takwa yang luar biasa. Namun, dikala masuk ke dalam lingkaran sosial dalam masyarakat, kondisinya jelas berbeda. Dalam masyarakat, bertebaran maksiat demikian pula dengan kehadiran tayangan minim manfaat.

Menurut Satori, masyarakat sewajarnya menciptakan suasana yang kondusif bagi setiap Muslim untuk menjaga keimanan dan ketakwaannya. Tanpa dipungkiri, pengaruh masyarakat demikian besar. Saat berbicara tentang masyarakat, maka disinilah posisi pemerintah selaku pemangku kebijakan untuk mengarahkan masyarakat membentuk situasi dan kondisi yang kondusif. “Jadi, semua pihak harus berperan. Dengan begitu, Ramadhan dapat melahirkan pribadi-pribadi Muslim yang tangguh,” pungkas dia.





Oleh : Prof Dr KH Achmad Satori

sumber : republika
Jumat, Juli 22, 2011 | 2 komentar | Read More

Kholili Hasib : Mengoreksi Tafsir Liberal dan Feminis tentang Wanita

Written By Dailynomous on Rabu, 20 Juli 2011 | Rabu, Juli 20, 2011

Wanita, selalu menjadi tema sentral dalam pemikiran modernisasi dan isu-isu globalisasi. Kebebasan wanita dan elemen-elemen yang terkait hampir selalu mencuat menjadi tema-tema utama wacana liberalisasi, persamaan (equality) dan modernisasi. Dalam perspektif liberal, kebebasan wanita adalah salah satu ikonnya. Saat ini, setidaknya ada dua isu hangat yang sedang mengalir; kasus video porno yang diperankan artis dan pilkada yang diramaikan calon-calon artis wanita.

Untuk pilkada, yang menjadi bahan perdebatan, artis-artis yang mancalonkan diri ada yang memiliki cacat moral –alias terkenal sebagai artis yang selalu tampil seksi dan porno di media. Dukungan bersumber dari aktivis feminis yang di antara tokohnya terkenal sebagai ilmuwan muslimah-berjilbab, dosen sebuah perguruan tinggi Islam terkenal yang pernah melontarkan pernyataan kontroversial tentang lesbian dan penafsiran agama.

Penafsiran liberal juga diaplikasikan kepada wacana pornografi, yang menjadikan wanita sebagai objek eksploitasi. Pornografi dianggap seni, yang perlu diapresiasi. Inilah nalar postmo, tidak mengenal ukuran normatif. Tidak dikenal benar-salah. Klaim kebenaran, dianggap menghambat orang lain dan menyuburkan otoriteriarisme. Ketika, korban-korban video porno yang menimpa anak-anak dan remaja semakin banyak, aktivis feminis dan liberal ‘tiarap’ tak dengar ‘nyanyian’ argumentatifnya. Itulah paradoks yang menimpa pemikiran postmodernisme – yang sejak awal kelahirannya selalu menjadi wacana kontroversial, terutama tentang diskursus perempuan.
…Penafsiran liberal juga diaplikasikan kepada wacana pornografi, yang menjadikan wanita sebagai objek eksploitasi. Pornografi dianggap seni, yang perlu diapresiasi. Inilah nalar postmo, tidak mengenal ukuran normatif…
Penindasan Dibalik Kampanye Feminisme

Diskursus perempuan dan aspek-aspek lainnya yang dikaitkan dengannya memang menjadi arena wacana yang selalu menarik. Lebih khusus dalam akal manusia Barat – di mana feminisme lahir darinya. Bagi Barat, sedari zaman kuno hingga abad modern, perempuan dan kecantikan serta seksualitas adalah wacana yang tidak bisa dipilah. Dalam patung-patung Yunani kuno misalnya, banyak ditampilkan model wanita telanjang. Tampaknya, Yunani kuno memuja-muja kemolekan perempuan, hal itu bisa dilihat dari arena Olympus Yunani kuno. Kebiasaan inilah barangkali yang diwariskan kepada budaya Barat saat ini.

Ironinya, di satu sisi keindahan fisik dipuja, di sisi lain hak dan jiwa wanita Barat saat itu dipenjara. Sejarah kelam institusi Inkuisisi Gereja pada era darkages menampilkan kerendahan perempuan dalam otoritas Gereja Eropa. Mayoritas korban penyiksaan keji lembaga Inkuisisi adalah perempuan. Hak dan kehormatan wanita dieksploitasi, bahkan oleh orang Barat kuno, wanita dianggap sebagai jelmaan setan. Naudzubillah.

Berangkat dari kutup ekstrim kembali pada kutub ekstrim yang lain. Inilah barangkali yang dialami diskursus perempuan Barat. Setelah mengalami eksploitasi hebat pada darkages, gerakan feminisme pada era pencerahan Eropa justru mebebeaskan perempuan sebebas-bebasnya, tanpa batas, mengenyahkan ukuran normatif agama.

Kelahiran feminisme, seiring dengan modernisasi agama di barat. Pada era selanjutnya, postmodernisme –memeriahkan intelektualitas Barat yang tidak hanya merambah dunia seni, arsitektur, dan sastra akan tetapi pada akhirnya ‘menyodok’ pula pada ruang agama. Inti kandungan filsafat postmodernisme ini adalah anti otoritas keagamaan, relativisme, pluralisme dan kesetaraan dalam semua aspek.

Term postmodernisme beserta ruang lingkupnya berpengaruh secara massif terhadap analisis kefilsafatan dan keberagamaan. Religiuitas Barat modern disesaki dengan pendekatan postomodern – yang doktrin utamanya adalah – nihilisme, anti-otoritas, pluralisme dan equality (kestaraan) tanpa memandang agama dan jenis kelamin.

Di sinilah, wacana tentang wanita mengalami perjalanan pada kutup ekstrim yang kedua. Dan dari sinilah wacana equality dan kebebasan perempuan justru menemukan titik eksploitas yang memuncak. Hal ini semakin menggugah pertanyaan, adakah kemajuan dan kemuliaan dari Liberalisasi Perempuan?
…Barat yang memelopori pembukaan kran liberalisasi perempuan, dan Barat pula yang melanggar hak-hak keperempuanan…
Barat yang memelopori pembukaan kran liberalisasi perempuan, dan Barat pula yang melanggar hak-hak keperempuanan. Berdasarkan laporan PBB tahun 2006, kasus kekerasan terhadap perempuan dan diskriminasi gender di lingkungan kerja Prancis sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan tersebut, dua pertiga pekerja rendahan yang semuanya perempuan dalam kondisi mengkhawatirkan.

Di Inggris, kasus hamil di luar nikah, aborsi dan eksploitasi tubuh wanita oleh media juga menjadi menghiasi laporan PBB tahun 2008. Kondisi di AS lebih tragis, menurut laporan FBI AS, pada tahun 2003 sebanyak 93 korban perkosaan dan pelecehan seksual di AS tidak ditanggapi serius oleh pengadilan.

Liberalisasi dan slogan equaliy ternyata gagal mengangkat derajat mulia kaum perempuan. Liberalisasi dan feminisme, satu sisi membongkar kemapanan beragama kaum perempuan. Bahkan istilah feminis mengandung makna tidak beragama. Feminis berasal dari kata “Fe-minus” yang artinya tidak beriman. Di balik itu pula slogan equaliy seperti bunuh diri, yakni, perempuan dieksploitasi.

Di Indonesia, wacana tersebut ternyata diminati bahkan semakin percaya diri. Perempuan dan seks sengaja menjadi isu sentral dalam membentuk opini Liberal – yang antiotoritas normatif agama. Islam dalam konteks ini sengaja dikreasi menjadi agama Postmo – yakni doktrin-doktrinnya dibongkar diganti dengan norma-norma humanis-sekuler. Kelihatannya indah, tetapi mematikan. Rasanya nikmat, namun beracun.
…Di Indonesia, wacana liberalisasi dan feminisme sangat diminati. Perempuan dan seks sengaja menjadi isu sentral dalam membentuk opini Liberal. Seorang kandidat doktor menyatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas…
Sebuah buku yang ditulis SQ, seorang kandidat doktor sebuah kampus di AS, mengatakan “Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas”. Menurutnya, praktik seks bebas tidak secara jelas diatur dalam diktum keagamaan. Bahkan yang lebih ekstrim dia berkomentar “Agama yang masih mengatur seks, beserta hukumnya, adalah agama kuno”. Astaghfirullah…

Bagi kaum Liberal, inilah era posmo. Sebuah zaman yang tidak memerlukan aturan agama untuk menjadi manusia baik, sebab, seperti dikumandangkan oleh Nietzsche, Tuhan telah terbunuh. Otoritas tidak lagi normatif keagamaan, akan tetapi nilai-nilai rasio manusia. Dalam hal ini diskursus perempuan menjadi arena menarik untuk menjejali manusia modern agar menjadi manusia yang posmo.

Dalam konteks ini, wanita-wanita telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang Feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan Feminisme memiliki di negerinya sendiri, Sehingga, muncul persepsi bahwa kebangkitan wanita perlu dilakukan dan ditingkatkan, Namun sayang, perjuangan wanita kebanyakan telah menyimpang mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat mereka sebagai wanita.

Tanpa mereka sadari, wanita-wanita telah diarahkan kepada perjuangan Feminisme dengan membawa ide-ide Kapitalisme–Sosialisme, yang pada akhirnya menjerumuskan wanita-wanita itu sendiri, bahkan membawa kehancuran bagi masyarakat dan negaranya. Hal ini disebabkan, mereka meninggalkan tugas utama sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur Rumah tangga) dan posisi mereka sebagai muslimah yang harus terikat dengan hukum-hukum syara’. Mereka telah terbelenggu kepada perjuangan yang bersifat individual dan semata-mata mendapatkan keuntungan.
…Tanpa mereka sadari, wanita diarahkan kepada perjuangan Feminisme dengan membawa ide-ide Kapitalisme–Sosialisme, yang pada akhirnya menjerumuskan wanita itu sendiri, bagi kehancuran masyarakat dan negaranya…
Disinilah menjadi suatu keharusan, untuk meluruskan peran wanita (khususnya muslimah) dalam usaha untuk mengembalikan kehidupan yang hakiki yang didasarkan kepada Islam sebagai diin yang syamil dan kamil. Perjuangan muslimah untuk kebangkitan umat yang hakiki tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dengan laki-laki, karena untuk mewujudkan masyarakat Islam, di mana di dalam masyarakat itu terdiri dari laki-laki dan perempuan, mengharuskannya berjuang bersama-sama tidak terpisah-pisah dan bersaing satu sama lain.


Oleh: Kholili Hasib
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor-Ponorogo
Rabu, Juli 20, 2011 | 4 komentar | Read More

Ustadz Muhammad Arifin Ilham : Kekuatan Iman

Written By Dailynomous on Selasa, 19 Juli 2011 | Selasa, Juli 19, 2011

Keimanan merupakan kekuatan yang mampu menyangga dan menyelamatkan hidup seorang hamba. Keimanan pulalah yang bisa mengantarkan seseorang berbenam kebaikan, perbaikan, dan kesuksesan. Kekuatan sebuah bangsa pun ternyata karena keimanan penduduknya.

Jika dalam pandangan mata kepala atau mata pikiran, kita terlampau percaya bahwa kekuatan terdahsyat saat ini adalah persenjataan supercanggih bernama rudal dan nuklir, dalam pandangan mata hati, kekuatan terbesar itu tidak lain adalah kekuatan iman. Yakni beriman kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya iman.

Rudal dan bom nuklir boleh jadi menjadi ukuran kekuatan sebuah negara. Negara dengan kepemilikan keduanya akan menjadi negara yang disegani. Namun sekali lagi, hakikat kekuatan bukan nuklir, melainkan keimanan. Karena keimanan adalah kekuatan yang didukung oleh Yang Mahakuat, Allah SWT.

Israel memiliki senjata nuklir. Namun, negara Yahudi itu tidak mampu menghadapi kekuatan iman para pejuang Palestina. Israel kesulitan mencari cara menghadapi aksi-aksi bom syahid ('amaliyah istisyhadiyah). Alhasil, senjata nuklir menjadi tidak ada artinya di hadapan kekuatan iman kaum Muslim Palestina.

Dengan kekuatan iman, umat Islam Indonesia mampu mengusir tentara penjajah Belanda. Pekikan takbir yang digemakan Bung Tomo tahun 1945, mampu menangkis serangan besar-besaran penjajah Belanda. Terbuktilah sudah bahwa kekuatan iman menghadirkan pertolongan Allah SWT yang tidak mampu dicegah oleh siapa pun dan oleh kekuatan apa pun.

Maka itu, perkuat persenjataan iman kita, di antaranya dengan sering hadir di majelis-majelis taklim dan zikir, mentadaburi Alquran, qiyamul lail, menjaga shalat berjamaah, dan jalinlah silaturahim serta ukhuwah.

Yakinlah, kekuatan iman mendorong seseorang mampu membaca situasi dengan benar. Kekuatan iman membuat pemiliknya mampu membaca tipu-daya musuh-musuh Allah terhadap umat Islam. Kekuatan iman pula yang menjadikan sesesorang tidak takut kepada siapa pun dan apa pun selain Allah SWT.

Kekuatan iman akan mendorong sesorang menjadi tabah, ikhlas, dan sabar dalam menghadapi musibah. Nabi Ayub dengan sakit "aneh" yang luar biasa, kekayaan yang ludes, istri yang meninggalkannya serta anak-anak yang diwafatkan, belum penghinaan dan pencibiran umat, tetap sabar karena kekuatan iman di hatinya. Bilal bin Abi Rabbah dengan lisan "Ahad!", dihimpit batu besar yang panas di tengah teriknya matahari, akhirnya menuai kebebasan dan kemuliaan; karena kekuatan iman yang bersemayam kuat di hatinya.

Sekali lagi, kekuatan iman akan membangkitkan selera taat, mengobarkan semangat jihad, sekaligus tetap bersyukur saat dipenuhi nikmat, terjaga tangannya untuk terus berinfak, dan istikamah berbuat sesuatu untuk syiar dan tegaknya kalimat tauhid.

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabb-nya…" (QS Ibrahim [14]: 24-25). Wallahu a'lam.

Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham




Sumber : Republika
Selasa, Juli 19, 2011 | 4 komentar | Read More

Liberal Pelacur Pemikiran

Written By Dailynomous on Senin, 18 Juli 2011 | Senin, Juli 18, 2011

Banyak kalangan mengira bahwa kaum Liberal Indonesia adalah kelompok orang yang “berani” dalam berpikir dan berpendapat, walau pun salah arah. Dan tidak sedikit kalangan yang memuji kaum Liberal Indonesia sebagai generasi yang “kritis” dalam pemikiran dan pemahaman, walau pun sesat jalan. Serta ada yang berdecak kagum melihat kaum Liberal Indonesia sangat “produktif” dalam menggelar seminar dan menulis makalah serta mencetak buku, ditambah lagi dengan sikapnya yang “nekat” melawan arus.

Padahal, jika kita menelusuri alur pemikiran Liberal dari hulu sampai ke hilir, dan kita perhatikan asal muasal gerakan dan aktivitas Liberal dari atas sampai ke bawah, ternyata kaum Liberal tidak seberani yang dikira, dan tidak pula sekritis yang digaungkan, serta tidak seproduktif yang dilihat.

PLAGIAT PEMIKIRAN

Kaum Liberal Indonesia dengan gegap gempita menggembar-gemborkan penerapan Hermeneutika dalam Studi Al-Qur’an. Nyatanya, jauh sebelum kaum Liberal Indonesia menggaungkan hal tersebut, adalah Pendeta Alphonse Mingana (1881-1937) seorang Kristen Iraq yang juga Dosen Theologi di Birmingham University – Inggris, dalam buku “Syriac Influence on The Style of The Kur’an” yang diterbitkan pada tahun 1927, menyatakan : “Sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap Al-Qur’an, sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani.”

Kaum Liberal Indonesia dengan super semangat mengkampanyekan tentang perlunya membuat Tafsir Al-Qur’an edisi kritis. Nyatanya, jauh sebelum kaum Liberal Indonesia mengkampanyekan hal tersebut, adalah Arthur Jeffery (1893-1959) seorang tokoh Kristen Methodist dari Australia, dalam buku “The Qur’an as Scripture” yang diterbitkan pada tahun 1952, menyatakan : “Apa yang kita butuhkan, bagaimana pun, adalah Tafsir Kritis yang mencontohi karya yang telah dilakukan Orientalis Modern sekaligus menggunakan metode-metode penelitian kritis modern untuk Tafsir Al-Qur’an.”

Selain itu, masih ada Abraham Geiger (1810-1874) yang melakukan kajian Al-Qur’an dari konteks ajaran Yahudi, dan Gustav Weil (1808-1889) yang melakukan kajian Al-Qur’an secara kronologis, serta Theodor Noldeke (1836-1930) yang melakukan kajian kritis asal muasal Al-Qur’an, juga Pdt. Edward Sell (1839-1932) yang menggunakan metodologi “Higher Criticism” terhadap Al-Qur’an, lalu Ignaz Golziher seorang Yahudi asal Hungaria yang pernah menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar – Mesir dan sahabat baik Christian Snouck Hugronye.

Kaum Liberal Indonesia dengan sangat agresif mendorong penyatuan semua agama dengan konsep pluralisme, inklusivisme dan multikulturalisme. Nyatanya, para Theolog dari kalangan Protestan seperti John Hick dan Paul F. Knitter, mau pun dari kalangan Katholik seperti Raimundo Panikkar, sudah lebih dulu menyuarakannya. Sampai akhirnya, Paus Yohannes Paulus II turun tangan pada tahun 2000 dengan mengeluarkan “Dekrit Dominus Yesus” untuk menghadapi serbuan pluralisme di kalangan umat Kristiani. Di kalangan umat Hindu ada nama Ram Mohan Roy (1772-1833) yang mencampur aduk-kan ajaran semua agama, yang kemudian ajarannya dilanjutkan oleh Debendranath Tagore dan Kashub Chandra Sen. Kemudian gerakan ini semakin kuat diusung di kalangan Hindu oleh Ramakrishna (1836-1886) dan Vivekananda (1863-1902).

Kaum Liberal Indonesia menggelorakan semangat perkawinan sejenis. Nyatanya, jauh sebelum kaum Liberal Indonesia meneriakkan legalisasi Homoseksual dan Lesbianisme, adalad Eric James, seorang pejabat gereja Inggris melalui bukunya “Homosexuality and a Pastoral Church” telah menghimbau gereja agar mentoleransi kehidupan Homoseksual dan Lesbianisme serta mengizinkan perkawinan sejenis. Bahkan pada November 2003, para pastor Gereja Anglikan di New Hampshire AS sepakat mengangkat Uskup Homoseks bernama Gene Robinson. Karenanya, di banyak negara Barat, Homosex dan Lesbi tidak dianggap sebagai kejahatan selama masyarakat menerimanya. Bahkan edannya, pada medio Juni 2011 baru-baru ini, Dewan Hak Asasi Manusia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM-PBB), dengan dukungan suara 23 negara melawan 19 negara yang menolak, sedang 3 negara abstain, mengeluarkan “Resolusi Persamaan Hak bagi semua orang tanpa memandang Orientasi Seksual”, yang isinya mengakui dan menjamin Homosex dan Lesbi sebagai Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga pelarangan Homosex dan Lesbi di negara mana pun akan dianggap sebagai pelanggaran HAM.

Aneka Hujatan Kaum Liberal Indonesia terhadap Al-Qur’an, seperti tuduhan keji bahwa Al-Qur’an sebagai produk budaya, produk bahasa dan produk sejarah, serta tuduhan jahat bahwa Al-Qur’an provokatif, diskriminatif, tidak autentik dan tidak suci, termasuk fitnah biadab bahwa Al-Qur’an hanya merupakan hasil kongkalikong antara Muhammad dengan para Shahabatnya, ternyata semuanya hanya “jiplakan” dari berbagai fitnah dan tuduhan yang pernah dilontarkan para Orientalis Barat sejak zaman Leo III (717-741) yang pernah berpolemik dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA melalui surat, hingga kini. Sepanjang sejarah Orientalis telah melahirkan manusia-manusia penghujat Islam antara lain : Johannes Damascus (652-750) yang memfitnah Nabi SAW sebagai hypersex, dan Abdul Masih Al-Kindi (sekitar Th.873) yang risalahnya dijadikan “rujukan” untuk menghujat Islam, Petrus Veberabilis (1094-1156) yang dipuja kalangan Orientalis sebagai “Bapak Penaklukan Pemikiran”, dan Ricoldo da Monte Crice (1243-1320) yang menyatakan bahwa Islam dan Al-Qur’an adalah buatan setan, serta Martin Luther (1493-1546) yang mencela Al-Qur’an sebagai takhayyul dan ketololan.

Masih banyak lagi aneka pemikiran Orientalis Barat yang “dijiplak” oleh kaum Liberal Indonesia. Jika kita paparkan disini satu per satu, maka akan memakan ratusan bahkan ribuan halaman. Hal ini menjadi bukti autentik bahwa kaum Liberal Indonesia tidak punya keberanian untuk berfikir, dan tidak memiliki sikap kritis sejati, serta sama sekali tidak produktif. Kaum Liberal Indonesia hanya “plagiat pemikiran” yang menjiplak sana sini dari aneka pemikiran Orientalis yang sesat dan menyesatkan.

KETERBELAKANGAN INTELEKTUAL

Jika kita meneliti lebih dalam lagi, ternyata kaum Liberal Indonesia bukan saja “plagiat pemikiran”, tapi juga kelompok manusia “minder” yang mengidap penyakit “keterbelakangan intelektual”. Itulah sebabnya, berbagai pernyataan dan tindakan mereka sering ngawur tidak berdasar, bahkan cenderung dungu dan kesasar, sehingga mereka bagaikan orang gila yang kesetanan.

Terkait Aqidah Islam, “keterbelakangan intelektual” kaum Liberal Indonesia tidak sanggup mendalaminya, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan “biadab” yang menodainya. Di tahun 2004, saat penyambutan mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) – Bandung terdengar ajakan dengan suara lantang dari oknum mahasiswa senior : “Kita dzikir bersama : Anjinghu Akbar !” Dan di tahun 2008, seorang aktivis Liberal dari AKKBB dalam suatu wawancara televisi menyatakan bahwa soal Ahmadiyah hanya merupakan persaingan antara “Nabi Arab” dan “Nabi India”.

Terkait kesucian Al-Qur’an, “keterbelakangan intelektual” kaum Liberal Indonesia tidak mampu memahaminya, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan “edan” yang menistakan kesuciannya. Pada tanggal 17 April 2006, Gus Dur dalam dialog interaktif di Radio 68H Utan Kayu – Jakarta bersama seorang wartawan Tempo, Guntur Romli, melontarkan pernyataan ngawur : “Al-Qur’an adalah kitab suci paling porno di dunia.” Dan pada bulan berikutnya, tanggal 5 Mei 2006, seorang dosen IAIN Sunan Ampel – Surabaya, Sulhawi Ruba, dalam rangka mendoktrin dan meyakinkan para mahasiswanya bahwa Al-Qur’an adalah hasil budaya manusia dan tidak sakral, maka secara sadar dan sengaja menginjak-injak lafazh “Allah” di hadapan para mahasiswanya.

Terkait Syariat Islam, “keterbelakangan intelektual” kaum Liberal Indonesia tidak sanggup memahami kesempurnaannya, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan “gila” yang melecehkannya. Ulil Abshar Abdalla dalam Harian Kompas 18 November 2002 menyatakan : “Menurut saya, tidak ada yang disebut Hukum Tuhan dalam pengertian seperti yang dipahami orang Islam.” Sedang dalam majalah Tempo edisi 19-25 November 2002, Ulil menyatakan : “Negara Sekuler lebih unggul daripada Negara Islam ala fundamentalis, sebab Negara Sekuler bisa menampung energi kesalehan dan energi kemaksiatan sekaligus.” Melalui tulisan di Harian Republika, Masdar F Mas’udi, salah seorang penulis buku sesat “Fiqih Lintas Agama” yang terbit tahun 2004, dengan dalih untuk keselamatan dari bahaya akibat padatnya jama’ah Haji dari berbagai negara, maka ia mengusulkan agar jama’ah Haji Indonesia menunaikan manasik ibadah Haji di bulan Syawwal saja. Selain itu, masih ada Sumanto Qurtuby penulis buku sesat “Lubang Hitam Agama” yang terbit tahun 2005, di halaman 70 menyatakan : “Pembantaian terjadi dimana-mana, teror terjadi dimana-mana, buah Syariat Islam bukannya manusia-manusia suci, saleh dan agung, tapi justru menciptakan gerombolan mafia dan “anjing-anjing” penjilat kekuasaan.”

Terkait homoseksual dan lesbianisme, “keterbelakangan intelektual” kaum Liberal Indonesia tidak mampu mengenalinya sebagai penyimpangan seksual, sehingga melahirkan pernyataan dan tindakan “sinting” yang menghalalkannya. Dalam jurnal “Perempuan” edisi 58, Musdah Mulia, Guru Besar Universitas Negeri Syarif Hidayatullah (UIN SH) – Jakarta, menyatakan secara terbuka : “Seorang Lesbian yang bertakwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin itu.” Dalam jurnal “Justisia” yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Wali Songo (IAIN WS) – Semarang, edisi 25 Tahun XI / 2004, redakturnya menuliskan dalam kolom redaksi : “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya.”

Aneka pernyataan dan tindakan kaum Liberal Indonesia dalam berbagai contoh kasus di atas, bukan sekedar sikap “asal beda” atau “tampil eksentrik” atau pun “gaya kontroversial”, apalagi sekedar wacana dari celotehan “nyeleneh”, melainkan pernyataan dan tindakan yang lahir dari penyakit serius berupa “keterbelakangan intelektual”. Penyakit ini lebih berbahaya dari “dungu” dan “idiot”, karena dungu atau idiot hanya melahirkan sikap “tidak tahu” atau biasa disebut “Jahil”, sedang “keterbelakangan intelektual” melahirkan sikap “sok tahu” atau lebih sering disebut “Jahil Murokkab”. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

LEBIH RENDAH DARI BINATANG

Allah SWT berfirman dalam QS.7. Al-A’raaf : 179 yang terjemahannya sebagai berikut : “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari Jin dan Manusia, mereka mempunyai hati (akal), (tetapi) tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), serta mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Ayat ini dengan tegas menghinakan orang-orang yang tidak mau mempergunakan hati / akal, mata dan telinga mereka untuk memahami, melihat dan mendengar tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Mereka disamakan dengan binatang, bahkan lebih rendah, hina dan sesat daripada binatang. Menurut penulis, kaum Liberal termasuk kelompok yang dihina ayat ini, karena cirinya sama. Bagi penulis, Liberal sama dengan binatang, bahkan lebih rendah dan hina.

Bagaimana Liberal tidak lebih rendah dan hina daripada binatang ?! Seekor ayam saja yang tidak berakal mengetahui bahwa jantan tidak boleh mengawini jantan dan betina tidak boleh mengawini betina, lalu ada manusia Liberal yang katanya berakal cerdas dan tinggi pula pendidikannya hingga “bergelar profesor doktor” tidak paham soal sesederhana itu, sehingga ia menghalalkan homosexual dan lesbianisme. Bahkan gilanya, Dewan HAM PBB melegalkan Homosex dan Lesbi sebagai Hak Asasi Manusia (HAM). Ironis, ayam yang tidak berakal tapi “mengerti”, sedang si manusia “profesor berakal” justru “tidak mengerti”, bahkan Dewan HAM-PBB yang katanya kumpulan “orang berakal” kelas dunia ternyata lebih “tidak mengerti”.

AKAR LIBERAL

Dalam sejarah Islam yang pertama kali menawarkan konsep Liberal terkait pencampur-adukkan ibadah antar agama adalah Abu Jahal cs, tatkala mendatangi Rasulullah SAW dan menawarkan perdamaian antar kaum muslimin dan kaum musyrikin dalam bentuk beribadah secara bergilir kepada Allah SWT dan berhala sesembahan kaum musyrikin, lalu turun Surat Al-Kafirun sebagai jawabannya.

Abu Jahal cs selalu menghina Nabi SAW, melecehkan agama dan memusuhi umat Islam dengan berbagai macam cara. Abu Jahal cs inilah yang pernah menantang Sayyiduna Abu Bakar RA untuk melogikakan dan merasionalisasikan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan “Akal”. Mereka berkata kepada Sayyiduna Abu Bakar RA : “Hai Abu Bakar, masihkan kau percaya dengan kebohongan Muhammad ? Akal manusia mana yang bisa menerima cerita perjalanan dari Mekkah ke Syam hanya dalam waktu sebagian malam. Padahal kita sama tahu, perjalanan sejauh itu dengan menunggang unta saja menghabiskan waktu tidak kurang dari sebulan perjalanan ?!”

Sayyiduna Abu Bakar RA pun menjawab dengan tegas dan lantang tanpa sedikit pun keraguan : “Andaikata Muhammad bercerita tentang peristiwa yang lebih dahsyat daripada Isra Mi’raj, niscaya pasti aku akan percaya dan membenarkannya !” Itulah sebabnya Sayyiduna Abu Bakar RA dijuluki “Ash-Shiddiq” yang artinya orang yang jujur dengan imannya, yang membenarkan Nabi SAW tatkala orang lain mendustakannya, yang mempercayai Nabi SAW tatkala orang lain mencemoohkannya. Jawaban Ash-Shiddiq RA adalah jawaban tulus dan ikhlash yang lahir dari iman yang kuat, bukan dari logika yang hampa. Ash-Shiddiq RA telah memberi pelajaran kepada umat Islam tentang urgensi dan importensi keimanan. Iman mampu menjawab sesuatu yang belum mampu dijawab oleh akal. Iman sanggup menerima sesuatu yang akal masih sulit mencerna. Iman bisa melakukan keajaiban yang tak bisa dikakukan oleh akal.

Dengan demikian, akar pemikiran Liberal dalam sejarah Islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW, yaitu pola pikir yang telah dipertontonkan secara vulgar dan demonstratif oleh Abu Jahal cs. Pola pikir Liberal terus berkembang di kalangan orang kafir dan munafiq, bahkan terus berusaha mempengaruhi kaum muslimin, sehingga dari dulu hingga kini banyak generasi muda muslim tanpa mereka sadari mulai masuk perangkapan pemikiran sesat Liberal. Sebagaimana Abu Jahal cs, kaum Liberal pun selalu menghina Nabi SAW, melecehkan agama dan memusuhi umat Islam dengan berbagai macam cara.

IBLIS, ZINDIQ DAN BUANG ANGIN

Iblis tatkala diperintahkan Allah SWT sujud kepada Adam AS, ia menolak dengan dalih : “Kau ciptakan aku dari api, sedang Kau ciptakan dia dari tanah.” Jawaban ini bukan hanya menunjukkan tingkat hasad dan sombongnya Iblis, tapi juga Iblis mencoba menggunakan “Logika” untuk berhadapan dengan “Perintah Allah SWT”. Ternyata akar Liberal ujung-ujungnya datang dari Iblis.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Imam Ja’far Ash-Shodiq RA pernah ditanya dengan pertanyaan “Liberal” : “Iblis diciptakan dari api, lalu akan disiksa dalam Neraka dengan api. Ini sesuatu yang tidak masuk di akal, api disiksa dengan api?!” Maka ketika itu Imam Ja’far Ash-Shodiq RA mengambil sebongkah tanah liat lalu diremas dan dipulungnya menjadi bulatan kecil, kemudian dilemparkan kepada si penanya, maka si penanya mengelak takut sakit. Imam Ja’far Ash-Shodiq RA menanyakan kenapa si pemuda mengelak, maka si pemuda menjawab bahwa jika tidak mengelak pasti akan merasakan sakit terkena lemparan bola tanah tersebut. Akhirnya Imam Ja’far RA berkata : “Kau manusia yang berasal dari tanah, tapi kenapa kau merasa sakit ketika dihantam dengan tanah ?!”

Syeikh Abdurrahman Habannakah Al-Maidani dalam kitabnya “Al-’Aqidah Al-Islamiyyah” menukilkan sebuah kejadian, yaitu peristiwa Debat Terbuka di depan umum antara Imam Abu Hanifah RA dengan kaum Zindiq yang berpendapat bahwa Alam Semesta beserta isinya tercipta dengan sendirinya. Ketika itu, Imam Abu Hanifah RA datang sangat terlambat ke lokasi pagelaran Debat Terbuka, sedang kaum Zindiq justru datang lebih dulu jauh sebelum waktunya. Maka kaum Zindiq pun mengecam, sedang Imam Abu Hanifah RA dengan tenang minta dimaklumi karena ada ‘udzur. Kaum Zindiq menanyakan udzurnya sambil mengancam tidak mau mengikuti debat jika udzurnya tidak bisa dimaklumi. Imam Abu Hanifah RA pun bercerita : “Sebenarnya aku berangkat tadi sudah tepat waktu, akan tetapi aku tertahan di tepi sungai ketika hendak menyeberang kemari, karena tidak ada perahu yang mengantar. Ketika sudah terlalu lama aku menunggu, maka aku putuskan untuk kembali, namun tiba-tiba aku melihat seonggok kayu mendatangiku dan kemudian kayu-kayu itu bergerak sendiri, satu sama lainnya saling mengikat dan menyatu, sehingga menjadi sebuah perahu. Akhirnya, aku gunakan perahu tersebut untuk menyeberangi sungai, sehingga aku sampai kepada kalian disini.”

Mendengar cerita Imam Abu Hanifah RA, spontan saja kaum Zindiq membentaknya sambil marah : “Adakah kau melecehkan kami dengan ceritamu ?! Apa mungkin seonggok kayu mendatangimu, lalu bekerja sendiri menjadi sebuah perahu ?!” Maka dengan tenang Imam Abu Hanifah RA menjawab : “Bukankah kalian berkumpul disini untuk mendebatku dalam persoalan semacam ini ?! Jika kalian tidak percaya bahwa perahu bisa tercipta dengan sendirinya, maka kenapa kalian menuntut aku untuk percaya bahwa Alam Semesta yang menakjubkan ini tercipta dengan sendirinya ?!” Kaum Zindiq terkejut mendengar jawaban Imam Abu Hanifah RA, mereka pun bungkam berjuta bahasa, bahkan akhirnya mereka taubat di hadapan Imam Abu Hanifah RA disaksikan umat Islam yang menghadiri acara tersebut.

Almarhum KH. Muhammad Syafi’i Hadzami rhm, seorang Ulama Besar Betawi, dalam pengajian di Radio Cendrawasih semasa hidupnya, pernah mendapat pertanyaan “nyeleneh” dari seorang pendengar : “Ada orang kafir bertanya kepada saya, kenapa umat Islam jika buang angin perlu berwudhu untuk Shalat. Pertanyaannya, kok yang buang angin pantat, tapi yang dibasuh muka dalam wudhu ?!” Almarhum menjawab dengan tenang : “Jika anda buang angin, yang malu pantat atau muka ?! Tentu muka, karenanya muka yang malu itulah yang dibasuh.”

SYAHWAT PEMIKIRAN

Dengan demikian menjadi terang benderang bahwasanya kaum Liberal tidak seberani yang dikira, dan tidak pula sekritis yang digaungkan, serta tidak seproduktif yang dilihat. Kaum Liberal hanya kemlompok “Plagiat Pemikiran” yang bisanya hanya menjiplak pemikiran orang lain. Bahkan yang lebih menjijikkan, ternyata kaum Liberal itu kelompok “Pelacur Pemikiran” yang selalu menerima pemikiran apa saja dan darimana saja hanya untuk memenuhi “Syahwat Pemikiran” mereka dengan dalil akal dan nalar.

Kaum Liberal sangat mengandalkan akal, bahkan cenderung mempertuhankan akal, sehingga semua aturan Aqidah, Syariat dan Akhlaq ditimbang dengan neraca akal. Dengan berdalih ayat dan hadits tentang keistimewaan akal, mereka paksa Aqidah, Syariat dan Akhlaq untuk tunduk kepada akal. Itulah karenanya, kaum Liberal akan menentang ayat dan menolak hadits jika mereka nilai bertentangan dengan akal.

Benarkah dengan sikap demikian itu berarti kaum Liberal telah memuliakan akal, atau sebaliknya. Insya Allah, pada edisi berikut akan penulis paparkan melalui kolom yang sama ini dengan judul : Liberal Pemerkosa Akal dan Pembunuh Nalar.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan melindungi kita dari segala bentuk pelacuran pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Aamiiin…!


Penulis: Habib Muhammad Rizieq Syihab
fpi.or.id
Senin, Juli 18, 2011 | 4 komentar | Read More

Prof Dr KH Achmad Satori : Tentang Setan Bisu

Written By Dailynomous on Kamis, 14 Juli 2011 | Kamis, Juli 14, 2011

Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah disebutkan, "Yang tidak meyuarakan kebenaran adalah setan bisu." (Lihat hlm 62 bab as-shumti). Ungkapan ini bukan hadis, tapi dikutip oleh banyak ulama dalam fatwa dan kitab-kitab mereka. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam Majmu' fatawa. Ibnu al-Qayyim juga menukilnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga mengutipnya dari Abi al-Qasim al-Qusyairy yang meriwayatkan dari Abu 'Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafi'i. Kemungkinan besar Abu Ali ad-Daqqaq inilah yang pertama mengutip ungkapan di atas. Kendati bukan hadis, isi dan jiwa kalimat tersebut sejalan dengan QS Ali Imran ayat 104, at-Taubah:71, dan lainnya. Juga seirama dengan makna banyak hadis amar makruf dan nahi mungkar.

Setiap mukmin berkewajiban untuk mengingkari yang batil dan menyeru kepada yang makruf sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah bersabda, "Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan (atau kekuasaannya) bila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisannya (nasihat) dan bila tidak kuasa maka hendaklah mengingkari dengan hatinya, yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman." (HR Imam Muslim).

Bila seorang Muslim tidak melakukan nahi mungkar padahal mampu dan tidak ada penghalang maka dia adalah setan gagu. Lebih parah lagi bila ada orang yang menyuarakan kebatilan, dia dijuluki sebagai jubir setan.

Kita sering menyaksikan Muslim yang komitmen menegakkan amar makruf dan nahi mungkar tetapi tidak mau menyuarakan yang hak ketika melihat pelanggaran yang sudah merata di masyarakat. Di antara sebabnya, rasa takut dimusuhi ahlul bathil, khawatir dicopot dari jabatannya, takut diisolir dari masyarakatnya seperti yang dialami Siami di Surabaya atau disebabkan hal-hal lainnya.

Kebaikan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang tidak menyuarakan yang hak ketika melihat larangan Allah ditabrak, batas-batas ajaran agama dilanggar dan ketentuan agama ditinggalkan? Bukankah musibah agama terbesar datang dari mereka yang merasa enak hidupnya, dan memiliki jabatan mapan tapi tidak peduli dengan musibah yang menimpa agamanya?

Umat Islam masih menjadi umat terbaik bila amar makruf dan nahi mungkar ditegakkan. "Kamu adalah umat Yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, manyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imran, 110).

Ketika maksiat berkeliaran di tengah-tengah umat manusia, penyelewengan merata di mana-mana sedangkan setan bisu dan jubir setan semakin banyak, maka Allah akan menimpakan kepada umat ini beberapa malapetaka yang mengerikan: pertama, diberi musibah merata; kedua, umat akan dikuasai preman; ketiga, manusia akan saling bunuh; dan keempat, doa ulama tidak dikabulkan.

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam Kitab Al-Hilyah, dari Abur Riqaad, bahwa ia berkata, "Hendaknya kamu memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar, dan menyuruh kebaikan atau kamu sekalian akan disiksa bersama atau kamu diperintah oleh orang-orang jahat di antara kamu kemudian bila para tokohnya berdoa tidak lagi akan dikabulkan. Na'udzubillah mindzalik.
Kamis, Juli 14, 2011 | 2 komentar | Read More

KH Abdullah Gymnastiar: Ingin Sehat, Lepaskan Tuhan-tuhan Selain Allah

Written By Dailynomous on Rabu, 13 Juli 2011 | Rabu, Juli 13, 2011

Para pelaksana Thibbun Nabawi hendaknya tidak terlampau percara diri (pede), dengan hanya meyakini pengobatan Nabi ini sebagai satu-satunya yang benar. Di zaman Nabi Saw, harus diakui, penelitian tentang pola hidup sehat tidak selengkap sekarang. Bagaimanapun, pengobatan ala Nabi harus tetap didukung oleh ilmu kedokteran modern agar bisa saling melengkapi.

”Ketika gendang telinga saya sakit, saya berobat ke dokter. Tentu hanya dengan meminum habbatussauda saja tidak cukup, tapi harus minum obat penahan rasa sakit atau antibiotic,” ungkap KH. Abdullah Gymastiar atau yang akrab disapa Aa’ Gym dalam Seminar Sehari “Pengobatan Nabi Ditinjau dari Perspektif Medis” di Auditorium Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta Selatan, belum lama ini. Hadir sebagai pembicara antara lain: Siti Fadilah Supari (Mantan Menteri Kesehatan), Prof. dr. Veni Hadju, dan PhD, Dr. Agus Rahmadi.

Menurut Aa’ Gym, bicara Thibbun Nabawi, seyogianya tidak hanya membicarakan kesehatan fisik semata, tapi bagaimana menjelaskan, bahwa untuk hidup sehat atapun sakit tetap membuat seseorang punya nilai tambah.

Rasulullah Saw mengajarkan kepada umatnya untuk hidup sehat. Kata Rasulullah, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya. Karena itu, niatkan keinginan untuk sehat ini , tak lain agar bisa mengabdi kepada Allah, dan bermanfaat untuk umat. Pointnya adalah niatnya harus benar, begitu juga caranya, sehingga betul-betul menjadi amal saleh.

“Jadi niatnya harus jelas dulu, kesehatan yang diniatkan untuk mau awet muda atau apa? Jika kita salah niatnya, maka makna sehat itu menjadi tidak ada nilai tambahnya. Sebab, ada orang yang sakit, justru menjadi shaleh. Rasa sakitnya itu malah membuatnya lebih mengenal Allah, bahkan jauh lebih matang, bijak, dan siap untuk menghadapi kematian. Karenanya, bicara kesehatan harus lebih mendalam,” tandas Aa’ Gym.

Banyak pelajaran, bila kita mengikuti pola sehat, seperti yang dilakukan Rasulullah Saw. Misalnya, Rasul punya gaya makan yang baik. Beliau sangat menjaga sekali lambungnya. Makan itu bukan perkara lidah, tapi menyehatkan. Adapun kita, makan hanya untuk memanjakan lidah. Terpenting, niatkan untuk hidup sehat agar senantiasa tetap bertaqarub kepada Allah Swt, dan menjadi manusia yang bermanfaat, sehingga menjadi amal saleh.

“Dulu saya gemar makan Soto Betawi, tapi sekarang tidak lagi. Jadi, makanan yang kita makan tentu harus halal dan thayyib. Bukan hanya enak, tapi menyehatkan. Satu hal, Rasul itu tidak pernah makan malam. Pola makan Rasul itu, berhenti makan sebelum kenyang, tidak makan ketika lapar. Perlu diketahui, perut Rasul itu terbagi tiga: sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. Jadi Nabi kalau makan tidak sampai kekenyangan,” ujar Aa.

Makan itu tidak harus kenyang, yang penting cukup untuk kekuatan tubuh. Maka biasakanlah untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran, termasuk kurma dan madu. Begitu juga dengan pola minum yang dapat menentukan darah dan otak kita. Air zamzam adalah air berkualitas. Jika perlu, kita berinvestasi pada air minum.

“Pernah suatu ketika Ibnu Qayyim jatuh sakit. Ia tidak minum obat, melainkan hanya minum air zaman yang sebelumnya dibacakan doa dan surah Al Fatihah. Ini menunjukkan, kekuatan doa itu sangat bersinergi dengan air zamzam. Karena itu, perbaikilah pola makan dan minum kita mulai sekarang.”

Tidak kalah penting, adalah menjaga kualitas udara. Rasul itu selalu melaksanakan tahajud dan jalan pagi dengan menghirup udara segar. Bahkan, Rasul ketika berangkat ke masjid, pulangnya selalu melalui jalan yang berbeda. Aa Gym juga menganjurkan agar kita rajin berolahraga. Karena orang rajin olahraha, tingkat kematain selnya jauh lebih panjang. Maka harus digalakkan: mengolahragakan umat.

Selanjutnya, mengikuti pola tidur Rasulullah. Peru diketahui, Rasul itu cepat tidurnya dan cepat bangunnya. Menyempat tidur di siang hari, walau setengah jam, dapat meningkatkan daya produktif menjadi lebih baik lagi. Akan lebih baik, jika kita tidur dalam keadaan zikir, atau sambil mendengar Al Qur’an.

“Terpenting, Rasul itu sangat intensif ibadah. Saya percaya perintah ibadah itu akan merelaksasi sel-sel tubuh, misalnya ketika membasuh air wudhu, atau sujud maupun rukuk, termasuk mandi malam dengan menggunakan air dingin. Ini bagus untuk menurunkan tensi darah tinggi seseorang. Orang yang terbiasa tahajud maupun saum, bisanya mempunyai daya imun atau kekebalan tubuh yang lebih baik, ketimbang yang tidak pernah bertahajud atau saum.”

Poin yang lebih penting adalah mengamalkan Resep Qalbun Salim, yakni memiliki hati yang lapang dan bersih. Orang yang dapat mengontrol emosinya, adalah salah satu kiat untuk hidup sehat. “Karena itu diusahakan, ketika orang marah, kita tidak ikut-ikutan marah. Juga tidak membalas keburukan dengan keburukan. Jika Nabi memiliki karakter dan sifat marah, dakwah pasti gagal. Lalu apa gunanya kita rutin minum madu, habbatussauda, tapi tetap saja komplikasi, dikarenakan memelihara penyakit hati dan mudah marah.”

Aa’ Gym mengaku, dulu saat ia berusia 40 tahun, sering mengalami penyakit asam urat, sariawan yang terus menerus, ditumbuhi jerawat. Dalam hal bisnis, dulu Aa merasa senang dengan perusahaan banyak, tapi disisi lain ia merasa tertekan. Sekarang, baginya yang penting benar dan jujur, rezeki sudah ada yang ngatur. Hal ini sangat berpengaruh pada kesehatannya.

“Sejujurnya saya lebih nyaman dan bahagia selepas diberi ujian. Karena ujian adalah bagian dari kasih sayang Allah. Kunci dari semua itu adalah memiliki Tauhid yang bagus. Ketika kita berhasil melepaskan tuhan-tuhan lain di hati kita, hanya Allah saja, maka hidup ini akan terasa lebih ringan. Dengan lepasnya hati ini dari harap dan takut kepada makhluk, dan tak lagi condong pada dunia, entah itu harta berlimpah, gelar, pangkat, kedudukan, popularitas, penghargaan , pujian, kehormatan, dan cinta orang, maka kita bisa memahami hidup yang sesungguhnya.”

Jadi Qalbun Salim yang paling utama adalah Tauhidnya hanya kepada Allah. Ketika itulah kita menjadi lebih lega, lapang, merdeka, tidak takut dihina. “Dulu, saya takut dihina, sekarang tidak mau pusing lagi dengan mulut orang. Banyak orang takut menghadapi ujian hidup ini, padahal ujian itu tidak bahaya. Yang bahaya itu ketika kita salah memberikan jawabannya. Begitu juga, orang banyak yang takut dengan sakit, padahal sakit jika dinikmati akan ada hikmahnya, dan bisa membuat seseorang semakin dengan Tuhan-Nya. Bukankah ujung dari sehat itu pada akhirnya mati juga.”

Maka, jika ingin sehat, belajar tauhid, kenali Allah, hingga kita dapat melepaskan segala sesuatu yang selama ini kita jadikan tuhan, seperti menuhankan uang, pujian, pangkat dan jabatan. Dengan itu, kita akan lega dan ujian serta cobaan hidup akan terasa lebih enteng. Hakikat sehat yang dilakukan Rasul adalah tidak berat hatinya, walau pun berat cobaannya.

Sumber : voa-islam
Rabu, Juli 13, 2011 | 1 komentar | Read More